Menghargai Pilihan

Saya tidak tahu, apa yang terpikir di hati seseorang ketika telah mengambil keputusan atas sebuah pilihan. Menghargai dengan segala konsekuensinya atau menyesali pilihan  tersebut? Saya hanya tahu, bahwa menghargai pilihan adalah bagian dari menyehatkan pikiran dan hati. Modalnya hanya satu, tulus. Dan hal itu lebih kuat, ketika cinta dan kasih sayang menyelimuti rasa tersebut.

Ya, inilah yang kini terjadi dalam hidup saya. Manakala saya membantu orang yang saya cintai untuk menolong seseorang melanjutkan hidupnya. Ketika seseorang kehilangan pegangan dalam hidupnya, maka dukungan itu perlu diberikan. Walau pada kenyataannya, untuk itu semua, saya harus mengiyakan permintaan orang yang saya cintai. Harga diri, kehormatan, ego harus lebih ditekan dengan perasaan lebih rendah hati demi masa depan seorang teman, begitu seseorang yang saya cintai katakan. Saya tahu resikonya, bisa baik untuk saya pribadi, bisa sebaliknya.

Saya mengenal luar dalam, sosok lelaki yang saya cintai ini. Orang yang dekat mengatakan beliau humanis. Karena itulah, buatnya, menjadi tak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapa demi kebaikan seorang teman, adalah ibadah.

Semula, saya tak mengerti. Lalu lima tahun pernikahan kami, tak sengaja terkuaklah apa yang dimaksudkannya. Hal itu membuat saya marah dan tak terima. Karena menurut saya, itu sama dengan merendahkan diri saya dan memutarbalikkan fakta. Namun, setelah melewati banyak pertengkaran, penyiksaan bathin terhadap diri saya sendiri yang merasa dicurangi dan dikhiananti, saya sadar, bahwa hal yang menyehatkan adalah memaafkan atas apa yang diperbuatnya, dan memaafkan diri sendiri atas keterlambatan dari sebuah ketidaktahuan. Saya menyadari, jikalau saya menjadi orang yang saya cintai, kemungkinan saya akan melakukan hal yang sama. Kita tidak akan bahagia, manakala teman dekat kita menderita. Itu inti dari semuanya.

Pernah suatu ketika, banyak pikiran dan penyakit hati lainnya berkecamuk. Merasa tak dicintai ketika dinikahi, merasa menjadi pelarian dari masalah pribadinya, merasa dipermainkan dan lain sebagainya. Dan itu semua kemarahan besar yang membuat saya menuduh dan tidak mempercayainya lagi. Namun, ia tetap sabar dan meyakinkan saya bahwa itu semua, semata-mata hanya faktor ingin menolong dan keikhlasan untuk membantu temannya memulai hidupnya kembali. Bagaimanapun, mereka pernah begitu dekat dan hanya orang yang saya cintailah, satu-satunya orang yang perempuan itu percayai.

Saya yakin, Tuhan tidak akan menyatukan kami, jika kami tak berjodoh. Saya meyakini, di setiap ibadah saya, jodoh, hidup-mati, rezeki, adalah kepunyaan Tuhan. Karena itulah, setiap manusia memiliki takdir hidupnya masing-masing. Sekeras apapun usaha untuk bersatu, jika Tuhan, tidak menghendakinya, maka sia-sialah sudah. Karena dari kehendakNya, kebaikan akan didapat.

Sungguh, ini adalah hal pertama yang sangat besar yang pernah saya lakukan dalam hidup. Berkorban untuk seseorang, yang bahkan mengenalnya saja, saya belum pernah. Dan saya menyadari arti pengorbanan itu adalah belum tentu mendapatkan balasan setimpal atas apa yang telah saya perbuat. Apalagi, jika seseorang yang kita bantu itu, tidak mengetahui apapun. Tak mengapa, karena kunci ibadah itu sendiri adalah di sana. Tulus, ikhlas menerimanya. Karena tidak semua apa yang kita inginkan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Bukankah Tuhan, memiliki cara sendiri untuk lebih mendekatkan diri kita denganNya…??

Orang yang saya cintai, adalah seseorang yang terbaik yang selalu menyadarkan saya, bahwa dalam hidup ini, bukan hanya kesenangan semata yang dicari, tapi ibadah. Dan ibadah, bisa kita lakukan kapan saja, untuk siapa saja, dan dengan cara apapun. Kalaupun akhirnya menimbulkan kesalahpahaman, biarlah kita berdua kembalikan pada Tuhan. Semoga segera hatinya dibuka, lalu menyadari bahwa, ketulusan kami melakukan semua ini untuknya, adalah usaha terbaik kami yang bisa kami perbuat. Sungguh sangat amat membahagiakan, jika mengetahui ia pun bahagia di sana. Lahir maupun bathin. Sesungguhnya, pekerjaan yang paling menyenangkan adalah, ketika mengetahui apa yang telah kita usahakan tidak sia-sia. Semoga Tuhan, akan selalu melindunginya. Itu doa kami berdua. :)

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Posted in Curhat | 3 Comments

Hening yang Kutunggu

candle_flower3

Jarum jam berdetak terasa pelan. Lewat langit-langit rumah ia merambat sembunyikan debar yang berirama syahdu. Lirih, buatku ikut tercekat pilu. Atau berkaca-kaca, jatuhkan satu, dua butir bening rasa haru.

Ada nada yang mengalun merdu. Kurasa itu detaknya yang mencoba menghibur malam. Bulan malam ini, lebih besar dari biasanya. 18 tahun terakhir, bulan akan memiliki jarak terdekat dengan bumi, yaitu sekitar 356.577 km dari Bumi. Jarak terdekat itulah yang menyebabkan ia menjadi bulan tercantik untuk malam ini, Sabtu, 19 Maret 2011, pukul 19.10 GMT atau Minggu, 20 Maret 2011, pukul 02.10 WIB. Fenomena ini disebut ‘lunar perigee’ atau Supermoon.

Kedekatannya membuatku merasa seakan, bulan ingin lebih memeluk bumi dengan cahayanya. Menyapa penghuninya dengan wajah aslinya. Rindu yang menggelisahkan. Walau dalam kehadirannya, banyak hal buruk diramalkan. Air laut akan pasang, kemudian terjadi banyak bencana dan lain sebagainya. Wallahu alam. Bukankah keindahan itu selalu memiliki kompensasi tersendiri? Ilmu berjalan semestinya. Kondisi bulan terdekat, membuat air laut pasang. Setidaknya, semoga tidak menelan korban dan mendatangkan bencana seperti yang ditakutkan. Amiiin..

Apapun itu, malam ini sungguh spesial bagiku. Ikan membutuhkan air. Laut pasang karena bulan penuh (purnama) datang. Supermoon, akan menjadi pelengkap hal yang lebih besar. Gemuruh laut pasang, menyebabkan ikan-ikan gelisah di lautan. Pun mungkin juga akan membawa pengaruh pada yang berzodiak pisces.. hehee.. sekedar ramalan.  Ini, titik penentuan kehidupan untuk lebih baik lagi. Baik dari sikap, perilaku atau pun kemapanan hati. Orang bingung mencari materi dengan berlipat-lipat. Lupa bersyukur dan selalu merasa kurang. Namun pisces, selalu boros karena tak mampu menjaga kantongnya ketika melihat orang lain menderita atau ingin melihat orang yang disayanginya bahagia.. hehee.. #liriksuami. So perhitungannya, teruslah melakukan hal baik. Tapi teliti agar tak salah dalam mengambil satu keputusan.. hehee..

Tuhan, aku lupa, betapa seharusnya aku lebih bersyukur padaMu. Malam ini, di hari ultahku, Engkau beri kado terbaik untukku. Langit lebih indah dari malam-malam lainnya. Alhamdulillahi robbil alamin.. Semoga ini menjadi berkah untuk seluruh umat. Amin..

Di jejakku, masih kutemui banyak langkah yang hilang. Dari setiap tapak, seperti tak pernah ikhlas kutinggalkan. Mungkin itu dari keluhan sepanjang hidupku. Satu demi satu menghapusnya. Bersih tanpa meninggalkan tanda bahwa di sana pernah ada jejak baru tercetak indah.

Tuhan, aku di sini bersama entah sudah berapa kali lipat noda hitam itu terlalu pekat menutupi jejakku. Raga ini sama seperti raga lainnya. Namun di dalamnya, terlalu kotor untuk disucikan. Dan ditiap detik aku bernafas, noda-noda itu semakin membumbung tinggi menutupi inci demi inci tubuhku. Sungguh, itu berasal dari butiran debu yang kukumpulkan dari harian hidupku pun Tuhan, mungkin ini yang seorang filsuf katakan, cinta itu telah mati di ujung tanduk.

Namun tidak! Bukan, atau aku yang terlalu munafik. Cinta membawaku lebih dekat padaMu. Itu berarti aku lebih mengenal, merasakan dan ingin berbagi cinta dan kasih pada segala. Pada alam dan seluruh mahlukMu. Hanya debu-debu kotor yang kusebut noda hitam itu yang telah menghempaskan aku akan arti cinta yang sebenarnya. Lalu, hari-hari gersang seperti sahara. Dan aku, sekali lagi, aku malu menemuiMu.

Di sini, aku masih sama, mencintaiMu.. mencintaiMu.. dan lebih mencintaiMu dengan segala kekurangan yang kumiliki. Tuhan, Engkaulah tempat aku bergantung. Hidup dan matiku, kepadaMu, kelak kembali. Engkau Maha Melihat, maka kukembalikan segala kebenaran dari bahasaku, ukiran kata-kataku pun tindakanku. Dan kepadaMu, aku memohon ampunan.

Duhai belahan hatiku
Tempat segala gusar kuletakkan
Tempat segala kesah kubaringkan
Tempat segala rindu, cinta menangis bahagia

Duhai sang pujaan hati
Pemilik segala jiwa
Penentu waktu yang hakiki
Pencipta kemuliaan di bumi
Kusampaikan rinduku ini kepadaMu
Sungguh kepadaMu..

Terima kasih untuk hidup yang Engkau berikan padaku
Pada cinta yang Kau tanamkan
Pada kasih yang Kau sematkan
Pada seluruh hidupku yang teramat sangat membahagiakan

Sungguh,
Dalamnya haru yang kugoreskan dalam penaku
Dalamnya kiasan yang mungkin tak begitu baik kuuntai untukMu
Itu sungguh, dariku, untukMu pemilik segala hati

Terima kasih, untuk menjadi pengisi hari-hariku
Semoga dengan selalu mengingatMu
Keburukan itu sirna
Dan terkubur dalam damai

Dan terima kasih untuk suamiku tercinta.. Karena Mas lah, hidup ini lebih berarti untuk dijalani, dan kebahagiaan lebih indah untuk dirasakan. Love you always.. #Hug.

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Gambar diunggah dari Mbah Google

Posted in Criwisan, Curhat, Goresan | 4 Comments

Blog Baru

Sebenarnya, ini bukan blog baru. Hanya blog lama yang sudah jarang saya singgahi. Berhubung dagdigdug suka bermasalah, maka mulai saat ini, blog itu akan saya perhatikan lebih intens dari biasanya.

Semula saya ingin tetap setia pada satu blog. Alasannya, selain bisa lebih care, saya merasa setia pada satu blog membuat saya bisa lebih kreatif untuk menulis. Namun amat sangat disayangkan, dagdigdug benar-benar membuat jantung saya selalu berdebar sama dengan namanya.

Ada beberapa karya yang saya ketik langsung tanpa saya simpan filenya. Tiba-tiba ingin menulis begitu saja di blog. Lalu menguploadnya tanpa menyimpan datanya terlebih dahulu atau pun sesudahnya. Jadi, ketika mungkin suatu saat nanti entah terjadi atau tidak, dagdigdug tiba-tiba menghilang, hilang juga karya saya jika tidak segera disimpan. Terkadang, dagdigdug sama sekali tidak bisa dibuka. Itu sungguh mengkhawatirkan. Seperti seharian ini, 504 Gateway time-out, menjadi informasi yang biasa menyapa penuh hangat. :(

Sebenarnya, karya saya tidak terlalu bagus-bagus benar. Jelek juga tidak sih.. #Eh. Namun, tetap berarti sebagai hasil curahan hati dan pikiran selama ini. Ya, kalau dihitung-hitung, bisa menjadi gambaran dan koreksi pribadi sejauh mana perkembangan gaya menulis saya. Apa menuju ke arah lebih baik atau biasa saja. Atau bahkan lebih buruk. Jleb!! Seperti truk yang menukik ke dasar jurang jadinya. :mrgreen:

Bagaimanapun hasil sebuah karya, tetap harus dihargai. Karena disadari atau tidak, kita telah menghargai diri kita sendiri. Jadi sejelek apapun, suatu saat bisa membuat kita tersenyum lho, atau tertawa sendiri. :P

Setelah dagdigdug nanti aktif kembali, saya akan segera berbenah diri. Angkut-angkut data dan mengcopynya ke blog baru :http://aksarapena.blogspot.com.

Yaa, apa boleh buat. Akhirnya, produk asing jadi pilihan. Sebenarnya ada beberapa pilihan produk dalam negeri. Namun yang ada masih terlalu bagus untuk ditinggalkan. Pun sayang, karena yang asing itu telah telanjur saya otak-atik hingga menjadi apa yang mungkin memberikan nilai puas untuk diri saya pribadi. Someday, mungkin akan mulai untuk melirik produk dalam negeri. Ya, someday… Hmm…

Gambar diunggah dari Mbah Google

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Posted in Criwisan, Curhat, Goresan | Leave a comment

Hantaran Kata

Lama tak posting di blog, terasa ada yang hambar. Kali ini, saya ingin berbagi sedikit rasa yang sembunyi di dalam tempurung kepala juga di antara detak jantung dan hati. Sesuatu yang buat saya terkadang marah, kesal, geram juga bingung dan bimbang.

Ini soal kemampuan menyampaikan isi benak yang terkadang ketika terurai dalam bentuk tulisan jadi berbeda arti. Pakar bahasa bilang, harus banyak belajar lagi, entah itu menulis atau pun rajin membaca agar hasil yang ingin disampaikan optimal.

Dilihat dari apa yang saya posting di blog, rata-rata berisi puisi dan cerpen. Bukan hal yang mudah ketika kita membuat puisi, namun penyampaian yang hendak dituju jadi berbeda di masing-masing orang yang membacanya. Tapi begitulah sebuah puisi. Masalah maknanya jadi berbeda-beda, bukan sesuatu yang harus menghentikan orang untuk terus berkarya. Apalagi, kalau untuk menjadi lebih baik lagi. Karena ketika kita menyerah dan tak mau mencoba lagi, sama halnya kita menyudutkan kemampuan diri sendiri.

Makna puisi menjadi berbeda-beda, itu adalah masalah lain. Namun, ketika kita menulis puisi dan hasilnya ternyata tidak sama seperti apa yang kita harapkan, akan lebih baik dicerna kembali dan dibenahi. Karena bagaimanapun, kita diberikan intuisi untuk menilai kemampuan diri sendiri. Nah, kalau itu bisa kita usahakan dengan sebaik mungkin, insya Allah kelak ada manfaatnya. Contoh seperti puisi saya yang berjudul, “JejakMu”.

Seharusnya puisi itu mengenai kesedihan dan kedukaan mendalam. Tentang ketulusan, pengorbanan, cinta dan kebenaran yang ditujukan hanya padaNya. Satu kekecewaan, yang ketika cemburu begitu menguasai, Tuhan, menjadi bukan yang utama. Ihwalnya, manusia memiliki cinta dan kasih sayang yang hanya satu atas karenaNya. Setelah seorang manusia mengenal arti cinta, rindu, kasih dan sayang, terutama setelah ia memiliki dan dimiliki seseorang dalam hidupnya, maka segala itu menjadi kepunyaan yang abadi. Lupa bahwa hidupnya atas kuasaNya. Lupa bahwa rasa itu ada juga karenaNya. Namun Tuhan, menjadi sesuatu yang dinomorduakan. Ironis bukan..?

Hal itu umum terjadi. Hanya akan menjadi hal amat sangat disayangkan, ketika ia tak segera menyadarinya atau menyadarinya, namun tak segera membenahi perasaannya. Bagaimanapun, padaNya kita kelak kembali dan kepadaNya tempat kita meminta pertolongan dan pengampunan.

Satu hal lagi, ketika kita melakukan sesuatu dan diniatkan karenaNya, terkadang kita khilaf atau memang sengaja melupakannya, lalu ingin mendapat pujian atau mengeluh jika apa yang kita lakukan ternyata tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Hari-hari menjadi keluhan, baik di hati atau pun disampaikan pada orang yang tepat. Sungguh tragis! Pengorbanan, ketulusan untuk sebuah kebenaran menjadi hambar. Percaya atau tidak, hidup menjadi hampa. So, jangan sampai terjadi, ya..? :(

Intinya, puisi saya selalu diharapkan bisa menjadi bacaan untuk berbagai kalangan. Tidak hanya untuk keimanan yang saya peluk semata, Islam, namun juga untuk berbagai keimanan para sahabat. Karena kerukunan dan kedamaian itu ada, jika kita bisa saling merangkul satu sama lain. Toh jangan lupa, negara kita negara Bhinneka Tunggal Ika. Dan saya bangga untuk itu. :)

Dari beberapa blog yang saya singgahi, entah itu dari link teman yang mampir atau pun ketidaksengajaan, saya menemukan puisi-puisi yang pantas untuk diacungkan jempol. Puisi yang menyadarkan dan juga memberi keharuan tersendiri. Dua di antaranya sebagai berikut :

Diambil dari link :  http://www.ariebae.co.cc/congratulations-ya.php/comment-page-1

…Izinkan aku mencintaiMu Semampuku…

Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu
Lembar demi lembar kitab kupelajari
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan

Tapi Rabbi,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan kemudian tahun berlalu
Aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang paling utama, namun
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu
Aku makin merasakn gelisahku membadai
Dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi
Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan

Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon, dan menghiba-Mu:
Allahu Rahim, Ilahi Rabbi,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu
Sebisaku

Ilahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa, hingga Al-Musthafa
Karenaitu izinkan aku mencintai-Mu
Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku

Rabbi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan diri-Mu dan Rasul-Mu bagi pribadi dan keluarga.
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad.
Atau Utsman yang menyerahkan seribu ekor kuda untuk syiarkan din-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,
Melalui seratus dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,
Pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan.
Pada makanan-makanan sederhana yang terkirim ke handai tolan.

Ilahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu dengan khusyuknya shalat salah seorang sahabat Rasul-Mu, hingga tak hirau dia pada anak panah yang terhujam di kakinya.
Karena itu Ya Allah, perkenankan aku tertatih menggapai cinta-Mu,
dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata,
meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Rabbi,
Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu.
Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu dua rakaat Lailku.
Dalam satu dua sunnah nafilah-Mu.
Dalam desah napas kepasrahan tidurku.

Yaa, Maha Rahman,
Aku tak sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah,
Yang menuntaskan kalm-Mu dalam satu putaran malam.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,
melalui selembar dua lembar tilawah harianku.
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa Rahim
Aku tak sanggup mencintai-Mu semisal Sumayyah,
Yang mempersembahkan jiwanya demi tegaknya din-Mu.
Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihad bagi-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwah-Mu.
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu semampuku
Dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Karim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,
bagi Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,
dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya.
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu di dalam segala
Perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku,
dengan mencintai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta.

Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilahi Rabbi
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Agar cinta itu mengalun dalam jiwaku
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku

——

http://deeply.dagdigdug.com/2011/02/21/izinkan-aku-mencintaimu-semampuku/

Puisi di atas bisa dikatakan doa. Sebuah kekhusyukan yang hanya ditujukan padaNya. Indah, seindah setiap untaian kata-katanya dan itu, dalam serta mendamaikan jiwa.

Dari puisi-puisi tersebut, kita jadi bisa mengetahui, bahwasannya untuk membuat sebuah puisi yang lebih berisi, kita harus lebih banyak pengetahuan dan wawasan. Karena dengan demikian, isi yang terkandung di dalamnya jadi lebih terasa penuh. Syahdu dan mengharukan, bukan..?? Betapa penyampaiannya membuat jiwa bergetar hebat. Segalanya jadi terasa bahwa kita diingatkan. Karena bagaimanapun, karya yang baik adalah karya yang mengandung pesan yang bisa bermanfaat untuk banyak orang.

By the way, don’t worry. Sekali lagi, kita terutama saya masih bisa belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Kita tak usah mengkhawatirkan apakah penyampaian kita itu sama seperti yang kita inginkan, karena setiap orang pasti akan menemukan makna yang berbeda dari setiap apa yang dibacanya, walaupun pada dasarnya intinya sama. Biarkan orang yang menilai, kita harus tetap tidak menyerah untuk terus berkarya. Karena dengan berhenti atau menyerah, kita akan menghambat kemajuan diri sendiri. So, keep spirit!! #terutamauntukdirisendiri.. hups.. hups.. hups..

Gambar diupload dari Mbah Google

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Posted in Criwisan, Curhat, Goresan | Leave a comment

Lentera Malam

lentera

Kugoreskan seribu impian di dinding malam
Menariknya pelan, lewat lentur aksara yang melingkar tajam
Agar gerah rebah untuk sesaat diam
Sesaat setia pada suara-suara alam
Sesaat menjadi tarian sunyi yang menentramkan

Lalu sebentar bisa kupejamkan mata
Nikmati setiap mimpi yang menari di pelupuknya
Ketika bibir mampu sunggingkan senyuman
Dalam hati berikrar sebut asmaNya

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Gambar diupload dari sini

Posted in Puisi | Tagged , , , | Leave a comment

Jejak

jejak1

Tuhan,
Aku tak mampu menjaga itu
Tentang ketulusan
Tentang pengorbanan
Tentang cinta
Atau pun kebenaran

Di jejak yang kupegang sebagai tanda kesetiaan
Selalu hilang sebelum sampai padaMu
Jejak-jejak kuat
Jejak-jejak dalam
Luput ketika jejak baru tercetak

Di sini, aku masih berdiri berharap
Satu jejak takkan hilang dalam sekejap
Satu cetakan baru
Dalam ragu yang menghebat

Tuhan,
Aku ingin menemuiMu
Di jejakMu yang sulit kutempuh

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Gambar diupload dari sini

Posted in Puisi | Tagged , , , , , | Leave a comment

Minggu Kelam Cikeusik

Pagi kelam Minggu pertama Februari
Seperti mendung sebentar lagi teteskan air
Dalam pekik mencekam di hari beranjak siang
Bauran orang datang dengan bambu dan pedang

Tuhan, diibaratkan menjelma dalam diri manusia
HukumNya, ditegakkan dengan senjata
Nyawa seperti tak butuh raga
Seutas tali menggantung di leher korban hingga binasa

Kini..
Senin hitam  jadi cerita sendiri
Lewat tetes bening yang mengalir di pipi
Tentang duka yang tak mampu sembunyi

Duhai saudaraku,
Betapa sunyi kita selami waktu
Tanpa  jiwa
Tanpa jejak kasih
Kita tinggalkan bara

Rupa-rupa wajah punya doa sendiri
Rupa-rupa angan milik pribadi
Entah hari ini, esok, atau lusa menanti
Cinta itu padam bersama amarah yang tak henti

Kini, dengarlah!
Raga-raga itu mati meninggalkan seribu tanya
Tentang prinsip suatu kebenaran
Satu ajaran yang teryakini
Sesembahan menjadi bias untuk kami yang tak mampu mengerti

Lihatlah saudaraku..
Genangan itu bukan air hujan yang mencari resapan
Bukan juga tumpahan air dari ember cucian ibu
Bukan siraman untuk tanah kering
Namun darah dari raga saudara kita setanah, sebangsa

Untuk kesekian kali
Bumi menangis
Di detik-detik penghabisan yang sebenarnya menanti kita tua
Damai telah mati di jiwa

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Senin, 7 Februari 2011

Posted in Puisi | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Di Jejak Malam

Aku kembali menekuni malam
Seperti sketsa yang belum tuntas
Mencari titik temu
Di sudut pandang yang merabun

Di titik itu
Segala seperti menemu pada ujung
Pada kehendak penghabisan
Kepasrahan yang tunggal

~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~

Posted in Puisi | Tagged , , | Leave a comment

Pelukmu Di Hangat Senja

lukisan-ibu_anak

Ibu, aku terjaga. Di bibir malam, di tepi sunyi. Ketika sepi, wajahmu begitu hangat menjelma dalam kenang. Tentang gerimis di sore itu. Tentang erat pelukan yang tak ingin kulepaskan.

Ibu, ini tentang mimpi. Yang kusimpan lama dalam setiap jejak. Dalam bangun dan lelapku. Dalam tawa dan tangisku. Entah ketika raga ini gerah, atau pun sehat tak terkira.

Di lingkar hidup. Aku melihatmu dalam tindak. Cepat, namun penuh kehati-hatian. Dalam lembutnya sapa, dalam manisnya senyuman atau dalam kerlip mata ketika inginmu sampai bahagiakanku seketika.

Ibu, di debar rasa. Jantungku selalu lebih kencang berdetak. Lebih memburu untuk mencapai tingkatan. Lebih tercekat ketika kutahu itu buatmu luka. Atau lebih sempurnakan rasa, ketika senyum bisa kuberi tanpa  sengaja.

Masih di sore itu. Satu mimpi yang kupeluk dengan sengaja. Satu mimpi yang sempurnakan segala rasa. Satu mimpi, yang kutahan dalam diam. Satu mimpi, yang ketika mampu kulakukan selalu kuurungkan.

Di sore itu, senja sejatinya lebih menggairahkan. Dalam hangat warna jingga. Burung-burung kecil, yang kau beri nama burung gereja seperti sebuah lirik lagu. Simfoni kenangan yang buatmu sunggingkan senyum. Terbang mengudara, atau meloncat kecil di antara kabel listrik yang lewati langit jalan. Kita duduk berdua. Di bangku kayu panjang yang kini menjadi saksi bisu. Begitu dekat, hingga satu lenganmu terasa erat sampai di pelukan. Lalu rambutku, sesekali kau belai lembut, hingga ia manja dan sandarkan di bahumu.

Ibu, dunia seakan kabulkan pintaku. Satu mimpi yang kusimpan dalam doa. Satu mimpi yang kutahan dalam diam. Satu mimpi yang ketika mampu kulakukan, selalu kuurungkan. Satu mimpi yang sama dengan bocah seusiaku ketika masaku bermain jatuh dan menangis.  Dan ketika kau tahu bajuku kotor, kau usap dengan lembut. Lalu kau peluk aku dengan senyuman dalam mata yang tak mampu membendung rasa sakit.

Satu mimpi yang ketika kakiku sudah mampu menjejak tegap. Satu mimpi yang ketika keputusan sudah mampu kubuat. Satu mimpi yang ketika jarak, waktu dan ruang telah berbatas. Satu mimpi yang ketika aku telah milik mimpi yang lainnya, masih kutahan.

Ibu, di pelukmu mimpi itu kusandarkan. Memelukmu dalam hangat senja, seperti petani rindukan hujan di sawahnya yang kering. Seperti gelisah bayi rindukan air susu ibunya, seperti pencari alamat yang ingin tuntaskan tujuan atau seperti penyair yang rindu akan kata-kata. Kini, di pelukmu, aku sandarkan kepalaku. Dalam linang yang tak pernah kau tahu,  betapa rindu ini kini terbayar sudah.

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Gambar diupload dari sini

Posted in Curhat, Goresan, Prosa bebas | Tagged , , , | Leave a comment

Debar Di Jantung Malam

muslim

Kini, aku memilah kata yang kutangkap lewat udara. Satu, satu datang dan melayang. Atau diam di antara sunyi yang mencengkram. Aku melihatmu, dalam bayang hitam bersila di hening malam. Sesekali kau tarik kelam, agar malam semakin mengikatmu erat dalam diam. Atau dalam jaga yang panjang tanpa sela.

Aku melihatmu. Sekali lagi melihatmu. Menyeka basah di pipi, yang sebentar kemudian kau usapkan pada kain sarung sebagai rindu yang kau sebut dengan cinta. Satu debar yang kupertanyakan tak pernah hilang. Walau selintas lalu, terkadang debar itu begitu indah untuk terus dirasakan. Ah, aku tak mengerti. Mengapa debar yang seperti itu yang selalu membuatmu melangit tinggi. Debar yang kau sebut dengan cinta abadi. Debar yang kau bilang mengalahkan senyum Monalisa. Debar yang kau sebut jiwamu begitu berharga ketika itu selalu selimuti hidupmu. Debar yang ketika harta melangitpun sulit untuk kau beli. Debar yang ketika buah hati kita lahir tak mampu menyaingi rasa. Debar yang mampu mengalihkan cintaku, yang padahal ketika itu, kau katakan aku segalanya bagimu.

Duhai.. debarmu itu, seperti hening malam yang selalu kau tunggu. Tepat di sepertiga malam, di jantung harapan, di hadapan Yang Maha Tinggi. Maka kuikhlaskan debarmu itu bukan lagi untukku. Bukan untuk hidupku, bukan juga untuk rindu yang nyatakan cintamu padaku. Karena ketika itu aku yakini, kau lebih mencintaiku. Mencintai segala yang melebihi diriku juga dirimu.

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Gambar diupload dari sini

Posted in Prosa bebas, Puisi | Tagged , , , | Leave a comment