Lama tak posting di blog, terasa ada yang hambar. Kali ini, saya ingin berbagi sedikit rasa yang sembunyi di dalam tempurung kepala juga di antara detak jantung dan hati. Sesuatu yang buat saya terkadang marah, kesal, geram juga bingung dan bimbang.
Ini soal kemampuan menyampaikan isi benak yang terkadang ketika terurai dalam bentuk tulisan jadi berbeda arti. Pakar bahasa bilang, harus banyak belajar lagi, entah itu menulis atau pun rajin membaca agar hasil yang ingin disampaikan optimal.
Dilihat dari apa yang saya posting di blog, rata-rata berisi puisi dan cerpen. Bukan hal yang mudah ketika kita membuat puisi, namun penyampaian yang hendak dituju jadi berbeda di masing-masing orang yang membacanya. Tapi begitulah sebuah puisi. Masalah maknanya jadi berbeda-beda, bukan sesuatu yang harus menghentikan orang untuk terus berkarya. Apalagi, kalau untuk menjadi lebih baik lagi. Karena ketika kita menyerah dan tak mau mencoba lagi, sama halnya kita menyudutkan kemampuan diri sendiri.
Makna puisi menjadi berbeda-beda, itu adalah masalah lain. Namun, ketika kita menulis puisi dan hasilnya ternyata tidak sama seperti apa yang kita harapkan, akan lebih baik dicerna kembali dan dibenahi. Karena bagaimanapun, kita diberikan intuisi untuk menilai kemampuan diri sendiri. Nah, kalau itu bisa kita usahakan dengan sebaik mungkin, insya Allah kelak ada manfaatnya. Contoh seperti puisi saya yang berjudul, “JejakMu”.
Seharusnya puisi itu mengenai kesedihan dan kedukaan mendalam. Tentang ketulusan, pengorbanan, cinta dan kebenaran yang ditujukan hanya padaNya. Satu kekecewaan, yang ketika cemburu begitu menguasai, Tuhan, menjadi bukan yang utama. Ihwalnya, manusia memiliki cinta dan kasih sayang yang hanya satu atas karenaNya. Setelah seorang manusia mengenal arti cinta, rindu, kasih dan sayang, terutama setelah ia memiliki dan dimiliki seseorang dalam hidupnya, maka segala itu menjadi kepunyaan yang abadi. Lupa bahwa hidupnya atas kuasaNya. Lupa bahwa rasa itu ada juga karenaNya. Namun Tuhan, menjadi sesuatu yang dinomorduakan. Ironis bukan..?
Hal itu umum terjadi. Hanya akan menjadi hal amat sangat disayangkan, ketika ia tak segera menyadarinya atau menyadarinya, namun tak segera membenahi perasaannya. Bagaimanapun, padaNya kita kelak kembali dan kepadaNya tempat kita meminta pertolongan dan pengampunan.
Satu hal lagi, ketika kita melakukan sesuatu dan diniatkan karenaNya, terkadang kita khilaf atau memang sengaja melupakannya, lalu ingin mendapat pujian atau mengeluh jika apa yang kita lakukan ternyata tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Hari-hari menjadi keluhan, baik di hati atau pun disampaikan pada orang yang tepat. Sungguh tragis! Pengorbanan, ketulusan untuk sebuah kebenaran menjadi hambar. Percaya atau tidak, hidup menjadi hampa. So, jangan sampai terjadi, ya..?
Intinya, puisi saya selalu diharapkan bisa menjadi bacaan untuk berbagai kalangan. Tidak hanya untuk keimanan yang saya peluk semata, Islam, namun juga untuk berbagai keimanan para sahabat. Karena kerukunan dan kedamaian itu ada, jika kita bisa saling merangkul satu sama lain. Toh jangan lupa, negara kita negara Bhinneka Tunggal Ika. Dan saya bangga untuk itu.
Dari beberapa blog yang saya singgahi, entah itu dari link teman yang mampir atau pun ketidaksengajaan, saya menemukan puisi-puisi yang pantas untuk diacungkan jempol. Puisi yang menyadarkan dan juga memberi keharuan tersendiri. Dua di antaranya sebagai berikut :

Diambil dari link : http://www.ariebae.co.cc/congratulations-ya.php/comment-page-1
…Izinkan aku mencintaiMu Semampuku…
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu
Lembar demi lembar kitab kupelajari
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan
Tapi Rabbi,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan kemudian tahun berlalu
Aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang paling utama, namun
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu
Aku makin merasakn gelisahku membadai
Dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi
Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan
Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon, dan menghiba-Mu:
Allahu Rahim, Ilahi Rabbi,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu
Sebisaku
Ilahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa, hingga Al-Musthafa
Karenaitu izinkan aku mencintai-Mu
Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku
Rabbi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan diri-Mu dan Rasul-Mu bagi pribadi dan keluarga.
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad.
Atau Utsman yang menyerahkan seribu ekor kuda untuk syiarkan din-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,
Melalui seratus dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,
Pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan.
Pada makanan-makanan sederhana yang terkirim ke handai tolan.
Ilahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu dengan khusyuknya shalat salah seorang sahabat Rasul-Mu, hingga tak hirau dia pada anak panah yang terhujam di kakinya.
Karena itu Ya Allah, perkenankan aku tertatih menggapai cinta-Mu,
dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata,
meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.
Rabbi,
Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu.
Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu dua rakaat Lailku.
Dalam satu dua sunnah nafilah-Mu.
Dalam desah napas kepasrahan tidurku.
Yaa, Maha Rahman,
Aku tak sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah,
Yang menuntaskan kalm-Mu dalam satu putaran malam.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,
melalui selembar dua lembar tilawah harianku.
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.
Yaa Rahim
Aku tak sanggup mencintai-Mu semisal Sumayyah,
Yang mempersembahkan jiwanya demi tegaknya din-Mu.
Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihad bagi-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwah-Mu.
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu semampuku
Dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.
Allahu Karim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,
bagi Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,
dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya.
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu di dalam segala
Perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku,
dengan mencintai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta.
Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilahi Rabbi
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Agar cinta itu mengalun dalam jiwaku
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku
——
http://deeply.dagdigdug.com/2011/02/21/izinkan-aku-mencintaimu-semampuku/
Puisi di atas bisa dikatakan doa. Sebuah kekhusyukan yang hanya ditujukan padaNya. Indah, seindah setiap untaian kata-katanya dan itu, dalam serta mendamaikan jiwa.
Dari puisi-puisi tersebut, kita jadi bisa mengetahui, bahwasannya untuk membuat sebuah puisi yang lebih berisi, kita harus lebih banyak pengetahuan dan wawasan. Karena dengan demikian, isi yang terkandung di dalamnya jadi lebih terasa penuh. Syahdu dan mengharukan, bukan..?? Betapa penyampaiannya membuat jiwa bergetar hebat. Segalanya jadi terasa bahwa kita diingatkan. Karena bagaimanapun, karya yang baik adalah karya yang mengandung pesan yang bisa bermanfaat untuk banyak orang.
By the way, don’t worry. Sekali lagi, kita terutama saya masih bisa belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Kita tak usah mengkhawatirkan apakah penyampaian kita itu sama seperti yang kita inginkan, karena setiap orang pasti akan menemukan makna yang berbeda dari setiap apa yang dibacanya, walaupun pada dasarnya intinya sama. Biarkan orang yang menilai, kita harus tetap tidak menyerah untuk terus berkarya. Karena dengan berhenti atau menyerah, kita akan menghambat kemajuan diri sendiri. So, keep spirit!! #terutamauntukdirisendiri.. hups.. hups.. hups..

Gambar diupload dari Mbah Google
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~