Griya Penaku…

rose_lilin

aku dan dirimu menyatu
diam dalam cinta yang bisu
bersama barisan tasbih berkalam rindu
menjejak rasa dalam balutan syahdu..

Tuhan..
kami ada karena-Mu..
maka rengkuhlah cinta kami juga karena-Mu..
agar pelita itu, menjaga hati kami selalu

~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~

February 2nd, 2010 at 11:34 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

anak-kelaparan1

mengiris habis segala luka
biar mereka terkapar berdarah pada nadi bisu yang lara
habiskan daya
hempaskan duka

mereka sudah tak bernyawa
saat kau gerogoti jiwa pada kedamaian sukma

entah..
sampai seberapa angkuh itu tersisa
hingga kau kebiri semua yang  mereka punya

Puaskah sudah…!!
Atau masih ada yang kau ingin dari nyawa yang kini sudah tak berharga
buatmu
bukan buat mereka..

di sini

January 29th, 2010 at 12:05 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

Tuhan, aku tak mau mengaduh tak mau mengeluh
walau ada rasa nyeri bersemayam, seperti tetesan garam pada luka
itu bukanlah apa,
karena kutahu itu dari-Mu

esok atau kah nanti
itu pasti akan terjadi
di antara keinginan yang belum tersampaikan
mungkin inilah inginku yang masih tersisa
rahmati hidupku
hingga helaan nafasku adalah dzikirku
agar jalanku tetap dalam keridhoan-Mu

~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~

January 19th, 2010 at 11:13 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

maaf, aku cengeng
menangis tak lagi bisa kutahan
hingga setiap tetesan air mata membuatmu geram
bukan karena kau benci tapi lebih pada tak tega
melihatku bersama luka yang kutanggung sendiri

mungkin hari kemarin senyum itu masih indah untukmu
hingga awan gelap menaungiku kini
membuatmu kesal tak berdaya
karena bibir ini tetap bungkam menahan beban

maaf, aku cengeng
seperti terlena pada sudut duka
mata ini selalu menggenang
membuatmu memaksa senyum dengan penghiburan
walau hidungmu mulai tak kuasa menjadi flu tiba-tiba

~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~

January 19th, 2010 at 11:10 pm | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

air-mata_7

Malam ini, dingin sedikit membekukan kulitku. Seperti ditusuk-tusuk jarum hingga membuat seluruh rongga merintih ngilu. Angin tetap saja berdamai dengan malam, hingga dingin terasa semakin menggigit. Kulangkahkan kakiku di atas trotoar Jl. Jembatan Merah. Namun ngilu yang berbalut pedih di hati, tak jua sirna.

Kutatap sendu lampu-lampu kota, terasa redup, sehingga jalan tampak lengang dan mencekam. Entah, apa yang membuatku tetap melangkahkan kaki di keheningan malam ini, sedang taksi sudah beberapa kali mengklaksonku, berharap aku jadi penumpangnya. Namun, hati tampaknya lebih memilih melenggangkan kaki bersama dingin yang membalut sweater-ku. Bibirku terasa beku, berat digerakkan. Kurapatkan ia dan terkadang, kuhembuskan untuk mencari kehangatan sejenak. Mungkin suhu malam ini hanya belasan derajat celcius. Benar-benar, membuatku jadi lebih sentimentil.

Kucepatkan langkahku, berharap badan hangat oleh gerakan. Uap sudah mulai keluar dari  mulutku. Dingin malam ini, benar-benar membuat kota Bogor ini berkabut. Kutatap bintang pada langit malam, tak satupun nampak. Padahal harapan ada, agar langkah-langkah ini semakin ceria. Aaahh.. dingin ini benar-benar membuatku berlari kecil. Kuloncatkan sedikit tubuhku, berharap gerakan ini bisa melunturkan kebekuan ragaku.

Tiba-tiba, ingatanku melayang pada kejadian kemarin pagi, aahh… kegelisahan yang tak pernah kuinginkan hadir. Rupanya ini akan terus menjadi mimpi buruk sepanjang hidupku. Jikalau peristiwa kemarin itu tak terjadi, kini aku telah resmi menjadi Nyonya Sasmita, ya Arya Sasmita. Kekasih yang telah bersamaku selama lebih dari lima tahun.

Pagi itu, aku nampak cantik dan anggun dengan kebaya putih yang membalut tubuhku. Wajah cantik itu kian berbinar dengan kosmetik yang memang jarang menyentuhnya pun aura yang terlihat. Begitulah menurut sahabatku, Siska.

“Duhai cantik nian calon pengantin putrinya. Tak kukira, wajah yang tak pernah di-make up itu, ternyata sungguh memberikan kejutan tak terkira untukku di pagi ini. Lantas, bagaimana dengan komentar calon suaminya nanti ya… hihihi…,” candanya.

Aku sempat merasa geer. Bagaimana tidak, bukan saja Siska yang memujiku tapi juga semua yang hadir di ruang riasku. Sungguh, hatiku bahagia. Betapa tidak, perjalanan hubungan ini sudah lima tahun lebih kami lalui, dan Arya adalah satu-satunya lelaki yang aku cintai. Mungkin tak ada yang pernah mengira, aku yang kini berusia 35 tahun, belum pernah sekalipun menjalin hubungan dengan laki-laki, dan Arya lah satu-satunya yang berusaha keras untuk mendapatkan hatiku. Mungkin ini sudah takdir, pikirku saat itu lalu memberinya peluang untuk menjadi kekasihku.

Kini, hari itu tiba. Aku tinggal menunggu detik demi detik untuk sampai ke langkah yang lebih resmi. Satu ikatan yang diridhoi oleh-Nya. Tapi entahlah, sejak semalam bathinku bergemuruh. Keringat dingin menderaku, mengguyur deras tubuhku. Sudah berulangkali kusampaikan hal ini pada Mbak Shinta, kakakku. Namun ia hanya mengatakan, ini gejala cemas calon pengantin. Duh, semoga setelahnya semua kembali seperti biasa.

“Kau gugup, Murni…?? Mengapa sejak tadi wajahmu berkeringat. Haduuuh, tante bingung. Bukannya apa-apa, sayang atuh non kosmetiknya..,” seru Tante Tuti, periasku.

“Ah, entahlah tante. Hatiku terus saja berdebar-debar, seakan-akan akan terjadi sesuatu..,” jawabku cemas.

“Ya, kan Mbak Murni sebentar lagi akan menjadi istri Mas Arya. Bagaimana tidak deg-degan…,” canda Tante Tuti.

Canda Tante Tuti memang sedikit bisa menyembulkan senyumku. Namun setelahnya, hati ini tak bisa digoda siapapun, bahkan suara-suara di ruang riasku, seakan perlahan-lahan mengecil lalu menghilang. Bayangan demi bayangan perjalanan kisahku dengannya, terlintas begitu jelas. Ah, beginikah rasanya orang yang akan melewati masa lajangnya. Oh Tuhan, kupercayakan segalanya pada-Mu. Lancarkanlah hal yang terbaik untukku, untuk kami berdua.

Tak berapa lama kemudian, aku pun kaget karena pundakku disentuh seseorang. Saat kupalingkan wajahku padanya, ternyata Ryo, adikku yang bungsu.

“Mbak, Mas Arya kok belum sampai…?? Ini sudah telat sejam lho…!!” tanyanya cemas.

“Belum sampai…?? Telat…?? Lho, sekarang pukul berapa, Yo…??” tanyaku ragu. Entahlah, mungkin sejak tadi aku terlalu gugup hingga tak mengenal waktu.

“Sudah jam sepuluh lewat Mbak. Seharusnya akad dimulai jam sembilan tadi…!!” jawab Rio cepat.

“Apa…?? Tapi bagaimana mungkin…??” tanyaku kembali cemas.
Mungkin karena tiba-tiba aku terlihat cemas, Siska segera menarik tangan Ryo.

“Ah, sudahlah Murni, tenang saja. Mungkin di perjalanan, Arya terkena macet…,” ucap Siska berusaha menenangkanku. Lalu segera menarik tangan Ryo pelan-pelan keluar dari ruang rias. Entah, setelah itu apa yang mereka bicarakan. Kulihat, Ryo tampak terburu-buru berlalu darinya.

Aku jadi semakin cemas. Kegugupan yang sejak tadi menghantuiku, tiba-tiba seakan-akan bertambah bobotnya. Bagaimanapun, ini adalah hari pentingku. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Arya. kulangkahkan kakiku mondar-mandir tak menentu, sambil sebentar-sebentar kutarik nafasku lalu kuhembuskan perlahan-lahan. Siska yang melihat keteganganku, segera mendekatiku.

“Tenanglah Murni, mungkin Arya memang terkena macet di jalan. Percayalah padaku.. hmm…,” ucapnya sambil menyunggingkan senyum dan mengedipkan matanya satu.

Kuanggukkan kepalaku. Aku pun kembali duduk di kursi riasku. Sedikit demi sedikit mulailah kugerakkan pembungkus hpku. Rasanya, tiba-tiba hari itu panas dan akan hujan. Padahal AC sudah super dingin. Kupandangi jarum jam weker yang tergeletak tak jauh dari meja riasku. Hatiku semakin cemas. Dan Arya tak jua kunjung tiba. Denyut jantungku semakin kencang. Kecemasan ini benar-benar membuatku takut. Kuraih hp, dan kutelepon ia. Tapi belum juga diangkat, tiba-tiba Siska datang dan mengambil hpku.

“Apa yang kau lakukan Murni…??” tanyanya sambil tersenyum manis.

“Aku ingin meneleponnya Sis. Perasaanku tak enak..,” jawabku gugup.

“Jangan. Calon pengantin yang akan diakad tidak baik saling berhubungan. Pamali…,” ucapnya serius.

“Tapi Arya khabarnya bagaimana…?? Karena sampai detik ini pun, ia belum juga sampai…!!” jawabku cemas.

“Sudahlah tak perlu cemas, sebentar lagi ia pasti akan tiba,” ucapnya menenangkan hatiku.

Waktu terus saja berlalu, sudah hampir tiga jam Arya tak menampakkan batang hidungnya. Hatiku semakin kecut, pun cemas. Ada apa sebenarnya dengannya…?? Mengapa tak kunjung juga tiba…?? Pikirku saat itu.

Bukan saja ruang riasku yang mulai riuh, tapi juga suara-suara dari ruang tengah tempat kami akan diijab mulai terdengar nada-nada kegelisahan. Ini semakin membuatku tak karuan. Tiba-tiba saja, dadaku sesak. Aku pun sulit bernafas. Rasanya, udara telah habis tertelan bumi. Kucoba untuk mencari-cari sesuatu di laci riasku, namun tak kutemukan. Aku semakin gugup. Air mata mulai menggenangi pipiku. Tak jauh kudengar suara seseorang mengatakan sesuatu.

“Lihat, penyakit asma Mbak Murni kambuh…!! Dimana inhalernya…?? Cari-cari….”.
Tak berapa lama, inhaler itu pun sudah menempel di bibirku.

“Ayo Murni, hirup.. cepat hirup, nak…,” ucap ibuku tampak gugup, sambil terus berusaha menyemprotkan obat asmaku.

Setelah itu, semua kembali normal. Hanya tersisa tubuh ini terbaring di pangkuan ibuku bersama air mata yang menggenang. Arya tak jua datang, hingga menjelang maghrib hanya tetamu dari saudara dekat saja yang masih menemaniku, pun Siska. Ibuku tampak kecewa, terutama ayahku sangat terpukul. Bagaimana tidak, Arya tak memberikan khabar sedikit pun. Sampai-sampai Ryo, adikku beserta pakdhe dan sepupuku menyinggahi kediamannya. Namun yang dijumpai, ternyata Arya telah pindah tiga hari sebelumnya. Betapa sangat menyakitkan. Baru kusadari, ternyata Arya meninggalkanku. Tapi entahlah, mengapa. Tak pernah sedikitpun ada tanda-tanda ini akan terjadi dan ia pun tak pernah merasa kecewa padaku atau ada yang salah pada hubungan kami. Selama ini, hubungan kami baik-baik saja, bertengkar pun tak pernah. Entahlah, mengapa ini bisa terjadi.

Aku pun terduduk di kursi taman. Kuhembuskan nafasku berlahan-lahan. Kuseka air mata yang sejak tadi telah berderai. Sedikit memberikan kehangatan di pipi dinginku. Tak berapa lama, isakkan itu pun keluar. Aku tak mampu menahannya, hingga tubuhku tersungkur di atas rerumputan. Entahlah siapa yang harus kusalahkan, diriku atau kesialan yang menjadikanku apes di pagi itu. Kujambak rumput-rumput liar yang ada di sekitarku. Kutarik dan kulemparkan ia jauh dari hadapanku. Tiba-tiba, kulihat sepasang insan sedang bercumbu. Oh, betapa menyakitkan. Ingatan-ingatan itu kembali, antara aku dan dia. Gambaran itu tampak jelas, postur tubuhnya, gayanya dan topi serta cara ia mengenakan topinya. Sungguh, ia benar-benar mirip Arya. Kualihkan pandanganku ke sebelahnya, berharap wajah sang kekasih mirip denganku, agar kenangan itu tampak nyata. Siska….!!!

~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~

January 11th, 2010 at 6:43 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

gus-dur_3

auramu masih terasa
membekas dan membungkus jiwa-jiwa gersang
bersama denyut nadi yang mencengkram
luluhkan hati pada kedukaan yang panjang

pergimu seakan hanya sebuah cerita belaka
yang kudengar dan ingin kulupakan
hingga setiap kumpulan tentangmu menjadi sejarah yang ingin kukenang
Selamat jalan Sang Pahlawan Bangsa…

January 6th, 2010 at 2:21 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

berdoa

Ya Allah, ada getaran kedekatan yang kurasakan di hatiku saat ini antara Engkau dan aku
entah mengapa, aku merasa rasa gersang ini tersirami dengan sendirinya
dan rasa syukur ini bertubi tak kuasa untuk kulantunkan pada-Mu..
Alhamdulillah… Kau hiasi hatiku dengan keimanan yang kuat
hingga apapun yang kan datang menggenanginya
akan tertampung dengan sendirinya pada telaga yang Kau tempatkan di luar hatiku. Syukron Ya Allah…

January 6th, 2010 at 1:32 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

gus-dur_10

apa yang bisa kutuliskan tentangmu, wahai orang besar..
jari jemariku seakan kaku pun hatiku kelu
ada rasa bangga dan haru yang tak bisa jua terucap
hingga membuat air mata ini menggenang di kedua pipiku

kenangan akanmu tak pernah habis tersisa
lewat nafas yang kami hela
walau itu sekedar serpihan wajah yang melekat pada angan-angan
kau tetaplah yang tak terlupakan

mungkin undang-undang bicara lain
tapi sejarah akan tetap mengingatmu sebagai pejuang bangsa
lewat nurani yang bicara
bahwa bangsa ini damai bersamamu

~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~

January 5th, 2010 at 9:59 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

air_cinta

Aku ingin menghilang… Itulah suara hatiku, saat mengenang kepergian ideku. Tak punya rasa, seakan ia mati bersama perginya hari-hari lalu. Tiap detik aku hanya bergumam sendiri, menggerutui hatiku yang telah tak punya makna. Tertawa, berteriak-teriak berharap ada sedikit rasa tersisa. Namun tetap, aku tak merasakan apapun kecuali kelelahan yang semakin mendera tubuhku.

Saat sore tiba, aku menghabiskan waktu termenung memandangi awan-awan jingga yang tersentuh mentari, berharap ada kebahagiaan, namun hampa. Coba paksakan senyum, kemudian berteriak memanggil-manggil senja sambil terus melambai-lambaikan tanganku, sampai lelah menderaku hingga akhirnya, aku terduduk lemas di antara padang rumput yang hijau, lalu menghempaskan tubuhku pada wangi tanah yang basah oleh hujan. Tak lama hatiku menjerit, mengapa jua ia tak bisa menangis hingga menimbulkan getaran di antara celah-celah perbukitan yang berdiri kokoh memandangiku. “Hei, kemanakah perginya ide…!!!” teriakku kemudian.

Aku kesal pada diriku saat itu, lalu terbangun dan berlari-lari mengelilingi padang rumput seperti orang kehilangan akal. Meloncat-loncat, dan melepaskan kaosku, kemudian memutar-mutarkannya di atas kepala lalu melemparkannya jauh dari tempatku berpijak. “Hujan, turunlah…!!!” makiku pada langit sambil jari ini menunjuk seakan menantang untuk mendengarkan titahku. “Ayo, guyurlah aku dengan airmu hingga dinginmu membekukan ragaku!” teriakku kembali. Sampai akhirnya, kelelahan membuat tubuhku tersungkur. Kemudian lama aku terdiam. Memandangi birunya langit saat itu. “Mengapa kau bisa begitu sempurna. Beberapa menit yang lalu, langitmu gelap oleh awan-awan hitam yang mengusilimu hingga mengguyurkan derasnya air. Kini, langitmu telah cerah kembali, biru sebiru-birunya lautan dalam…”.

Tak berapa lama, tiba-tiba dari tempatku terbaring, berdiri sesosok tubuh dengan wajah penuh senyuman. Aku berusaha mengenali wajah itu yang mulai terhalang oleh bayang tubuh itu sendiri.
“Ah, kau lagi Seruni…,” gumamku tanpa peduli.
“Pulanglah Mas, hari telah sore. Sebentar lagi adzan maghrib tiba…,” ucap Seruni lembut.
“Aku tak peduli…,” jawabku cepat.
“Aku peduli…,” sambut Seruni kembali dengan nada yang perlahan.
“Sudahlah Seruni, pergilah. Jangan kau pedulikan diriku. Tidakkah lelah dirimu menemaniku terus menerus. Apa yang kau dapatkan dariku, kecuali hanya kelelahan serta kedukaan bersuamikan orang aneh, seperti yang kebanyakkan warga desa ini katakan…,” ucapku, dengan suara tinggi.

Seruni hanya tersenyum memandangi wajahku. Aku bingung, mengapa istriku tidak pernah mengatakan apapun. Selalu senyum itu yang menjadi jawaban dari setiap pertanyaan yang sama yang sering aku tanyakan.

“Aku tak pernah tahu, apa yang ada dalam pikiranmu, Seruni. Kau adalah senja yang selalu menggelisahkan hatiku, pun bunga yang selalu memberikan keharuman tersendiri. Entah, mengapa kau tak pernah layu bersamaku..,” bisik hatiku sambil memandangi senja yang semakin sore semakin surut.

“Marilah Mas, kita pulang…,“ bujuk Seruni, sambil membaringkan tubuhnya di sampingku.
”Ah, mengapa engkau membaringkan tubuhmu di sampingku..?? Bukankah ini membuatku jadi ingin lebih lama terjaga di sini, sambil memandangi langit malam bersamamu. Sebentar lagi, langit bertaburkan bintang.. Yah, bintang. Kerlipnya seperti rona matamu yang selalu membuat hatiku teduh..,” bisik hatiku kembali.
“Ayolah kita pulang.. Jangan menggelisahkan-Nya dengan keberadaan kita di sini..,” ucap Seruni.
“Mengapa menggelisahkan-Nya…?? Bukankah ini berarti kita mensyukuri nikmat-Nya…??” tanyaku penasaran.
“Karena sebentar lagi maghrib, Mas.. Saatnya kita bermunajat pada-Nya. Di sini begitu dingin, godaan pun tak menentu. Lihatlah diriku, tak ada mukena atau pun pakaian sepantasnya yang bisa membuatku layak untuk bersyukur pada-Nya. Lantas, mengapa tidak kita pulang..?? Syukur alhamdulillah, jika sampai di rumah sebelum adzan tiba,” ucap Seruni lembut.

Aku pun tersenyum mendengar jawabannya. Selalu menyejukkan di hati. Kuyakinkan diriku, benar seorang perempuan harus menutup auratnya secara penuh, walau tak  menutup kemungkinan, hari ini entah mengapa, aku ingin lebih lama bersamanya di sini.

Kami pun berjalan beriringan. Tangannya menggandeng tanganku dengan erat. Ah, selalu saja aku yang bodoh. Mengapa tak pernah kulakukan sebelum ia mendahului. Kupandangi wajahnya dari samping, ia begitu sempurna. Anggun, manis, keibuan, dan semua yang bidadari miliki ada padanya. Begitulah hatiku berkata. Karena dialah perempuan satu-satunya yang kucintai, entahlah mengapa ia pun mencintaiku. Aku tak mengerti, tak pernah mengerti.

“Jangan memandangiku terus, Mas. Pandanganmu membuatku tak konsen memilih jalan yang baik di depan kita..,” ledek Seruni sambil menyunggingkan senyumnya.
“Ah kau, selalu membuat hatiku berbunga..,” bisik hatiku kembali.

Sesampainya di rumah, Seruni segera menyuguhkan secangkir teh hangat. Kemudian berlalu ke kamar belakang, menyiapkan keperluan untuk peribadatan kami.
“Duhai, tehmu selalu pas di hatiku istriku… Entah, kurang bersyukurnya apa diriku dengan hadirmu di sisiku..,” bisik hatiku sambil menyeduh kembali teh hangat buatannya.
Tiba-tiba, ada rasa basah di pipi. Kusentuh ia dan ah, air mata.. Seperti tak percaya, akhinya aku bisa menangis. Bahagiakah ini…??

Tak lama kemudian, Seruni muncul dari kamar belakang sudah siap dengan mukenanya.
“Mas, hayo kita sholat bersama-sama..,“ ajaknya lembut.
“Hmm..,” anggukku. Kemudian berlalu untuk  berwudhu.

Hari itu, begitu syahdu untuk kami. Bermunajat bersama cinta yang menggebu. Cintaku pada-Nya atas karunia-Nya untukku, Seruni. Yah, belahan hatiku. Jiwa yang menyadarkan keberadaanku, posisiku sebagai hamba-Nya, sebagai penenang dan penghilang gersang hatiku. Ah entahlah, mengapa kau begitu mencintaiku, Seruni… ataukah engkau mencintaiku karena-Nya.. Pertanyaan ini selalu menggelisahkanku. Tapi bibir ini, entah mengapa tak berani untuk menanyakkannya padamu. Sakit, itu yang kutakutkan terjadi pada hatimu. Seruni, apakah kau tahu resahku…??

Tiba-tiba, ada kebimbangan, mengapa tak ada perasaan yang sama seperti senja tadi, di padang rumput, saat kami bersama. Entah mengapa, selalu saja ada banyak desiran di hati dan rasa-rasa yang menggelisahkan, saat perasaan ini tak berdinding. Ah Seruni, andai kau tahu. Ini tak membuatku betah untuk tinggal satu atap berdinding denganmu. Andai aku bisa mengajakmu pergi dari kekokohan ini, tapi di luar tiba-tiba hujan mengguyur bumi. Ah, mengapa…???

“Mas, jangan melamun terus.. Hayo, makanlah. Nanti nasi dan lauk itu dingin..,” ucap Seruni, memecah lamunanku.
“Oh iya, maaf…”. Segera kumakan hidangan yang sudah sejak tadi terhindang di depanku.
“Mmm… masakkanmu, sungguh lezat Seruni. Tak pernah beda dengan masakan ibuku. Jari jemarimu itu memang tak begitu lentik. Tapi itulah kelebihanmu, bisa memberikan sentuhan di lezatnya hidangan perutku,” bisik hatiku bahagia.

Tak lama setelah menikmati hidangan malam itu, Seruni segera bergegas membereskan semua yang tersisa. Lalu berlalu ke kamarnya. Tak berapa lama kemudian, ia keluar lengkap dengan pakaian tarinya. Sungguh, cantik dan elok tubuhnya. Bersama balutan jarik jawa dan kebaya serta konde yang menempel di rambutnya. Duuh.. entah, mungkin jika tak ada yang tahu engkau sudah memiliki suami, akan ada yang melamarmu istriku..

“Mas, aku pergi dulu ya.. Mungkin hari ini pulangnya agak larut karena acara rewangan di rumah pak lurah sampai tengah malam…,” ucapnya lembut.
“Hmm…,” jawabku cepat.

Sebelum Seruni berlalu dari hadapanku, sempat kulihat ia memandangiku dengan wajah agak berat meninggalkanku sendiri. Kemudian segera meninggalkan rumah dengan langkah terburu-buru bersama payung di tangannya. Angin malam seakan membawamu dengan cepat dari hadapanku. Tak lama, tubuhmu pun menghilang di kegelapan malam. Sungguh, saat itu sebenarnya hati terlalu berat melepaskanmu. Setiap saat, seakan engkau selalu menghilang dengan cepat dari hadapanku. Pekerjaan itulah yang merenggutmu dari diriku, bahkan dari harga diriku sebagai lelaki, sebagai suami yang seharusnya memberikan kehidupan lebih baik untukmu.

Oh, mengapa kepala ini tak pernah terisi satu pun ide. Mengapa semua seakan hilang, sirna ditelan topan. Kemanakah perginya ide-ide brilianku. Beginilah hidupmu cah ayu, jika menikahi seorang penyair tanpa harapan sepertiku. Aku kandas bersama segala kekuranganku. Tapi, kau tetap saja mencintaiku, tetap setia bersamaku. Padahal saat itu, kau punya pilihan yang lebih baik dariku. Seruni, mengapa kau cintai laki-laki ini…?? Apa yang ada di pikiranmu…??

Tak lama, sebuah kursi melayang membentur tembok di depan mataku. Rasa sakit menggerayangi kakiku. Amarah ini seakan ingin segera kuredakan dengan menghancurkan semua yang ada di depanku. Rasa kesal yang tak pernah bisa kuakhiri dengan sikap baik. Ah, betapa menunjukkan kebinatanganku.

“Seruni… Seruni… Mengapa kau tetap bertahan bersama pecundang sepertiku…!!!” teriakku kesal.
Dari kejauhan, sayup-sayup kudengar suara musik mengalun mendayu. Mungkin, kini Seruniku telah mulai melenggak-lenggokkan tubuhnya. “Oh, betapa seharusnya itu hanya untukku…!!” Kujambak rambut ikalku dengan kencang. Aku benci membayangkan gerakkan tubuhnya yang menjadi tontonan orang banyak. Seharusnya, tubuh itu hanya untukku, untukku seorang. Tiba-tiba, kata-kata Seruni saat itu tergiang-ngiang di telingaku.

“Mas, tak apalah aku lakukan ini untuk kita. Hanya untuk sementara, sampai Mas Hardjo bisa mendapatkan kembali inspirasimu. Tetaplah semangat Mas.. Aku mendukungmu, apapun yang menjadi pilihanmu. Percayalah padaku. Hatiku akan selalu untukmu…”.

Ah, ini benar-benar membuat hatiku selalu gelisah. Mengapa aku tetap seperti ini. Aku tercekat dalam kebencian yang dalam. Aku membenci kebodohanku. Mengapa.. mengapa tak ada jalan lain selain menjadi penyair…?? Apakah hanya ini yang kubisa…?? Rasa geram membuatku tak kuasa, hingga menghempaskan tubuhku pada kokohnya tembok di belakangku. Lalu tubuhku pun limbung.

Entahlah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Saat mataku terbuka, kudapati wajah cantik itu tersenyum memandangiku, sambil di tangan kanannya memegangi handuk kecil. Tak lama kemudian, ia mengompres kepalaku dengan lembut.

“Mas…, hari ini kudapati engkau terduduk di ruang tamu dalam keadaan tak sadarkan diri. Entah ini sudah keberapa kalinya. Maaf, jika aku telah membuatmu menjadi seperti ini…”, ucap Seruni dengan isak tangis yang mulai terdengar perlahan.

Entahlah, tiba-tiba dadaku sesak. Bukan, bukan Seruni, bukan karena engkau aku jadi begini. Ya Tuhan, mengapa kusakiti hatinya kembali. Mengapa kebodohan ini selalu membelengguku. Kuhempaskan pandanganku ke tembok di sisi kananku, agar ia tak melihat kebodohan dari wajahku.

“Mas.., katakanlah padaku, agar aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu…?? Ceritakanlah, kuharap itu bisa meringankan beban di hatimu, walau mungkin itu tak berarti untukmu. Tolonglah Mas, aku tak bisa melihatmu selalu seperti ini…?? Aku, merasa gagal menjadi istri bagimu..,” ucap Seruni kembali menangis dengan tersedu.

“Seruni.. bukan itu. Justru aku yang gagal menjadi suami yang baik untukmu..,“ bisik hatiku.
Ah entahlah, mengapa lidah ini terlalu berat untuk mengatakan hal ini padanya. Aku hanya bisa diam, tercekat sambil memandangi dinding-dinding yang gelisah melihat percakapan kami berdua.

“Mas…, katakanlah apakah ada yang salah denganku…?? Aku akan berusaha untuk memperbaikinya, jika memang itu yang menjadi penyebabnya. Tolonglah Mas, janganlah diam. Kumohon…,” Seruni berusaha meyakinkanku sambil memegangi tanganku dengan lembut.
Air mataku pun tak sanggup kubendung lagi. Ia lepas, menggenang di antara ruang-ruang pipi yang dingin. Seluruh tubuhku bergetar, kaku bersama aliran darah yang tiba-tiba terasa merenggang.
“Aku bersalah padamu, Seruni…,” bisik hatiku.
“Mas…, mengapa engkau menangis…?? Maafkan istrimu ini…??” ucapnya dan segera meletakkan kepalanya di atas dadaku.

Hatiku bertambah sakit. Ah Hardjo, mengapa engkau hanya diam seribu bahasa. Kau biarkan istrimu terkulai dalam derita yang bukan salahnya. Kau biarkan ia tersakiti oleh ulahmu lagi, dan lagi. Hardjo, lakukan sesuatu atau sakitmu takkan reda walau mungkin memang takkan pernah reda oleh ketololanmu sendiri.

“Istriku, engkau terlalu baik untukku, untuk orang sepertiku..,” tiba-tiba itu terucap begitu saja dari lidahku.
Seruni terhenyak dari dekapanku. Ia memandangiku dengan pandangan yang tak mengerti dipenuhi dengan derai air mata yang entah sudah berapa sering mengalir karenaku.
“Tidak mas, apa yang mas katakan…?? Mengapa mas mengatakan hal ini padaku…?? Aku, aku tak mengerti…?” ucapnya sambil membasuh air matanya.
“Aku telah gagal membahagiakanmu, bahkan orang-orang kampung menganggapku penyair gila. Mengapa engkau masih saja bertahan denganku…??” ucapku sambil tetap mengalihkan pandanganku darinya.
“Mas, ayolah.. jangan berkata demikian. Aku istrimu, dan akulah satu-satunya orang yang mengenalmu lebih baik dari mereka semua. Engkau adalah belahan hatiku, karunia dan penjaga imanku…,” jawabnya lembut sambil menyunggingkan senyum manisnya.

Oh, betapa wajah sabar itu kudapati padamu, tidak di hari ini saja tapi di tiap hirupan nafasku saat engkau selalu bersamaku.

“Seruni, aku…,” belum selesai kukatakan sesuatu padanya, Seruni segera menutup bibirku dengan jarinya.

“Mas, andaikan masalahnya masih sama dengan hari-hari kemarin, aku tak mau mendengar hal itu darimu. Cukuplah, itu menjadi perbincangan bukan ingatan. Aku percaya padamu, engkau pasti akan bisa menciptakan karya yang baik seperti sebelum-sebelumnya. Aku akan selalu mendampingimu. Tak yakinkah engkau padaku…??” ucap Seruni dengan wajah yang penuh dengan ketulusan.

Aku tahu itu dari hatinya. Tak ada kebohongan dari bola matanya, pun dari genggaman erat tangannya. Bisa kurasakan kedamaian di sana. Oh Seruni, akan kutuliskan yang indah-indah mengenaimu. Semoga setelahnya, ini bisa menjadi bahasa yang indah dari buah penaku, setidaknya untukmu. Itulah janji hatiku untukmu, untuk malam ini, untuk langit-langit rumah ini yang menatap gelisah kita berdua, untuk jangkrik-jangkrik di luar sana serta untuk-Mu, ya Tuhanku. Berkahilah usahaku untuknya, untuk kekasih tercintaku.
Dan malam itu pun semakin hening dalam dekap kami berdua.

~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~

January 5th, 2010 at 2:08 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

ladyes_5_ii

Entah, bagaimana caranya aku mulai mengistirahatkan rasa pada bait-bait kerinduan, sementara jari-jemari sudah tak mampu menari. Ia terkulai di antara jelaga hati yang kian gersang oleh kata. Dalam degub-degub arus kerinduan yang tak pasti, lalu terbenam dalam kelesuan dahaga yang panjang.

Kini, kucoba untuk menghimpun mimpi dalam setiap dekap, lalu mengurainya hingga semua tampak nyata dalam angan-angan bersama pelangi yang panjang. Dalam taman-taman keabadian, bersama kumpulan bidadari-bidadari malam, merenggut semua yang melayang di antara dentingan harmoni rasa yang gundah. Tetap, kalbu itu kosong tiada dapat menenun rasa, hingga lelah berjelaga mencari arti.

Kemudian tak lama, beberapa merpati singgah, mengabarkan tentang madu hingga membuat hati membuncah. Memberi kesan tersembunyi di antara harapan yang sudah tak pasti, melenakan jiwa, melayangkan guratan-guratan senyum yang lama telah surut oleh waktu, lalu melayangkan angan hingga terbang pada atap-atap langit impian dan menanamkan rasa, bahwa cinta itu masih milikku.

Aku pun berselimut bahagia, mengangkat jari jemari kaki pada ketinggian nirvana, lalu meninabobokan rasa, mendekap sukma dan menghitung tiap kerlip bintang yang terus berbinar dalam angan-angan. Kini, hatiku berada pada bintang yang tertinggi, bersinar terang di antara yang lainnya, hingga lupa bahwa ia pernah redup.

~ ~ ~ ~ ~ oOo ~ ~ ~ ~ ~

January 2nd, 2010 at 2:19 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink