Griya Penaku…

air-mata_7

Malam ini, dingin sedikit membekukan kulitku. Seperti ditusuk-tusuk jarum hingga membuat seluruh rongga merintih ngilu. Angin tetap saja berdamai dengan malam, hingga dingin terasa semakin menggigit. Kulangkahkan kakiku di atas trotoar Jl. Jembatan Merah. Namun ngilu yang berbalut pedih di hati, tak jua sirna.

Kutatap sendu lampu-lampu kota, terasa redup, sehingga jalan tampak lengang dan mencekam. Entah, apa yang membuatku tetap melangkahkan kaki di keheningan malam ini, sedang taksi sudah beberapa kali mengklaksonku, berharap aku jadi penumpangnya. Namun, hati tampaknya lebih memilih melenggangkan kaki bersama dingin yang membalut sweater-ku. Bibirku terasa beku, berat digerakkan. Kurapatkan ia dan terkadang, kuhembuskan untuk mencari kehangatan sejenak. Mungkin suhu malam ini hanya belasan derajat celcius. Benar-benar, membuatku jadi lebih sentimentil.

Kucepatkan langkahku, berharap badan hangat oleh gerakan. Uap sudah mulai keluar dari  mulutku. Dingin malam ini, benar-benar membuat kota Bogor ini berkabut. Kutatap bintang pada langit malam, tak satupun nampak. Padahal harapan ada, agar langkah-langkah ini semakin ceria. Aaahh.. dingin ini benar-benar membuatku berlari kecil. Kuloncatkan sedikit tubuhku, berharap gerakan ini bisa melunturkan kebekuan ragaku.

Tiba-tiba, ingatanku melayang pada kejadian kemarin pagi, aahh… kegelisahan yang tak pernah kuinginkan hadir. Rupanya ini akan terus menjadi mimpi buruk sepanjang hidupku. Jikalau peristiwa kemarin itu tak terjadi, kini aku telah resmi menjadi Nyonya Sasmita, ya Arya Sasmita. Kekasih yang telah bersamaku selama lebih dari lima tahun.

Pagi itu, aku nampak cantik dan anggun dengan kebaya putih yang membalut tubuhku. Wajah cantik itu kian berbinar dengan kosmetik yang memang jarang menyentuhnya pun aura yang terlihat. Begitulah menurut sahabatku, Siska.

“Duhai cantik nian calon pengantin putrinya. Tak kukira, wajah yang tak pernah di-make up itu, ternyata sungguh memberikan kejutan tak terkira untukku di pagi ini. Lantas, bagaimana dengan komentar calon suaminya nanti ya… hihihi…,” candanya.

Aku sempat merasa geer. Bagaimana tidak, bukan saja Siska yang memujiku tapi juga semua yang hadir di ruang riasku. Sungguh, hatiku bahagia. Betapa tidak, perjalanan hubungan ini sudah lima tahun lebih kami lalui, dan Arya adalah satu-satunya lelaki yang aku cintai. Mungkin tak ada yang pernah mengira, aku yang kini berusia 35 tahun, belum pernah sekalipun menjalin hubungan dengan laki-laki, dan Arya lah satu-satunya yang berusaha keras untuk mendapatkan hatiku. Mungkin ini sudah takdir, pikirku saat itu lalu memberinya peluang untuk menjadi kekasihku.

Kini, hari itu tiba. Aku tinggal menunggu detik demi detik untuk sampai ke langkah yang lebih resmi. Satu ikatan yang diridhoi oleh-Nya. Tapi entahlah, sejak semalam bathinku bergemuruh. Keringat dingin menderaku, mengguyur deras tubuhku. Sudah berulangkali kusampaikan hal ini pada Mbak Shinta, kakakku. Namun ia hanya mengatakan, ini gejala cemas calon pengantin. Duh, semoga setelahnya semua kembali seperti biasa.

“Kau gugup, Murni…?? Mengapa sejak tadi wajahmu berkeringat. Haduuuh, tante bingung. Bukannya apa-apa, sayang atuh non kosmetiknya..,” seru Tante Tuti, periasku.

“Ah, entahlah tante. Hatiku terus saja berdebar-debar, seakan-akan akan terjadi sesuatu..,” jawabku cemas.

“Ya, kan Mbak Murni sebentar lagi akan menjadi istri Mas Arya. Bagaimana tidak deg-degan…,” canda Tante Tuti.

Canda Tante Tuti memang sedikit bisa menyembulkan senyumku. Namun setelahnya, hati ini tak bisa digoda siapapun, bahkan suara-suara di ruang riasku, seakan perlahan-lahan mengecil lalu menghilang. Bayangan demi bayangan perjalanan kisahku dengannya, terlintas begitu jelas. Ah, beginikah rasanya orang yang akan melewati masa lajangnya. Oh Tuhan, kupercayakan segalanya pada-Mu. Lancarkanlah hal yang terbaik untukku, untuk kami berdua.

Tak berapa lama kemudian, aku pun kaget karena pundakku disentuh seseorang. Saat kupalingkan wajahku padanya, ternyata Ryo, adikku yang bungsu.

“Mbak, Mas Arya kok belum sampai…?? Ini sudah telat sejam lho…!!” tanyanya cemas.

“Belum sampai…?? Telat…?? Lho, sekarang pukul berapa, Yo…??” tanyaku ragu. Entahlah, mungkin sejak tadi aku terlalu gugup hingga tak mengenal waktu.

“Sudah jam sepuluh lewat Mbak. Seharusnya akad dimulai jam sembilan tadi…!!” jawab Rio cepat.

“Apa…?? Tapi bagaimana mungkin…??” tanyaku kembali cemas.
Mungkin karena tiba-tiba aku terlihat cemas, Siska segera menarik tangan Ryo.

“Ah, sudahlah Murni, tenang saja. Mungkin di perjalanan, Arya terkena macet…,” ucap Siska berusaha menenangkanku. Lalu segera menarik tangan Ryo pelan-pelan keluar dari ruang rias. Entah, setelah itu apa yang mereka bicarakan. Kulihat, Ryo tampak terburu-buru berlalu darinya.

Aku jadi semakin cemas. Kegugupan yang sejak tadi menghantuiku, tiba-tiba seakan-akan bertambah bobotnya. Bagaimanapun, ini adalah hari pentingku. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Arya. kulangkahkan kakiku mondar-mandir tak menentu, sambil sebentar-sebentar kutarik nafasku lalu kuhembuskan perlahan-lahan. Siska yang melihat keteganganku, segera mendekatiku.

“Tenanglah Murni, mungkin Arya memang terkena macet di jalan. Percayalah padaku.. hmm…,” ucapnya sambil menyunggingkan senyum dan mengedipkan matanya satu.

Kuanggukkan kepalaku. Aku pun kembali duduk di kursi riasku. Sedikit demi sedikit mulailah kugerakkan pembungkus hpku. Rasanya, tiba-tiba hari itu panas dan akan hujan. Padahal AC sudah super dingin. Kupandangi jarum jam weker yang tergeletak tak jauh dari meja riasku. Hatiku semakin cemas. Dan Arya tak jua kunjung tiba. Denyut jantungku semakin kencang. Kecemasan ini benar-benar membuatku takut. Kuraih hp, dan kutelepon ia. Tapi belum juga diangkat, tiba-tiba Siska datang dan mengambil hpku.

“Apa yang kau lakukan Murni…??” tanyanya sambil tersenyum manis.

“Aku ingin meneleponnya Sis. Perasaanku tak enak..,” jawabku gugup.

“Jangan. Calon pengantin yang akan diakad tidak baik saling berhubungan. Pamali…,” ucapnya serius.

“Tapi Arya khabarnya bagaimana…?? Karena sampai detik ini pun, ia belum juga sampai…!!” jawabku cemas.

“Sudahlah tak perlu cemas, sebentar lagi ia pasti akan tiba,” ucapnya menenangkan hatiku.

Waktu terus saja berlalu, sudah hampir tiga jam Arya tak menampakkan batang hidungnya. Hatiku semakin kecut, pun cemas. Ada apa sebenarnya dengannya…?? Mengapa tak kunjung juga tiba…?? Pikirku saat itu.

Bukan saja ruang riasku yang mulai riuh, tapi juga suara-suara dari ruang tengah tempat kami akan diijab mulai terdengar nada-nada kegelisahan. Ini semakin membuatku tak karuan. Tiba-tiba saja, dadaku sesak. Aku pun sulit bernafas. Rasanya, udara telah habis tertelan bumi. Kucoba untuk mencari-cari sesuatu di laci riasku, namun tak kutemukan. Aku semakin gugup. Air mata mulai menggenangi pipiku. Tak jauh kudengar suara seseorang mengatakan sesuatu.

“Lihat, penyakit asma Mbak Murni kambuh…!! Dimana inhalernya…?? Cari-cari….”.
Tak berapa lama, inhaler itu pun sudah menempel di bibirku.

“Ayo Murni, hirup.. cepat hirup, nak…,” ucap ibuku tampak gugup, sambil terus berusaha menyemprotkan obat asmaku.

Setelah itu, semua kembali normal. Hanya tersisa tubuh ini terbaring di pangkuan ibuku bersama air mata yang menggenang. Arya tak jua datang, hingga menjelang maghrib hanya tetamu dari saudara dekat saja yang masih menemaniku, pun Siska. Ibuku tampak kecewa, terutama ayahku sangat terpukul. Bagaimana tidak, Arya tak memberikan khabar sedikit pun. Sampai-sampai Ryo, adikku beserta pakdhe dan sepupuku menyinggahi kediamannya. Namun yang dijumpai, ternyata Arya telah pindah tiga hari sebelumnya. Betapa sangat menyakitkan. Baru kusadari, ternyata Arya meninggalkanku. Tapi entahlah, mengapa. Tak pernah sedikitpun ada tanda-tanda ini akan terjadi dan ia pun tak pernah merasa kecewa padaku atau ada yang salah pada hubungan kami. Selama ini, hubungan kami baik-baik saja, bertengkar pun tak pernah. Entahlah, mengapa ini bisa terjadi.

Aku pun terduduk di kursi taman. Kuhembuskan nafasku berlahan-lahan. Kuseka air mata yang sejak tadi telah berderai. Sedikit memberikan kehangatan di pipi dinginku. Tak berapa lama, isakkan itu pun keluar. Aku tak mampu menahannya, hingga tubuhku tersungkur di atas rerumputan. Entahlah siapa yang harus kusalahkan, diriku atau kesialan yang menjadikanku apes di pagi itu. Kujambak rumput-rumput liar yang ada di sekitarku. Kutarik dan kulemparkan ia jauh dari hadapanku. Tiba-tiba, kulihat sepasang insan sedang bercumbu. Oh, betapa menyakitkan. Ingatan-ingatan itu kembali, antara aku dan dia. Gambaran itu tampak jelas, postur tubuhnya, gayanya dan topi serta cara ia mengenakan topinya. Sungguh, ia benar-benar mirip Arya. Kualihkan pandanganku ke sebelahnya, berharap wajah sang kekasih mirip denganku, agar kenangan itu tampak nyata. Siska….!!!

~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~

January 11th, 2010 at 6:43 pm

 

anjing